Showing posts with label MARKETING COMMUNICATIONS. Show all posts
Showing posts with label MARKETING COMMUNICATIONS. Show all posts

Tukang Mie Ayam - A Social Network!

Written by Joe Hasan, based on his true story.


Tukang Mie Ayam by noor.hilmi.
farm4.static


Kejadian ini bermula ketika secara tak sengaja aku berpapasan dengan tukang Mie Ayam keliling yang biasa beredar di depan rumah. Siang itu, kulihat dia tengah berasyik masyuk di pinggir jalan, cekikikan sambil melihat sesuatu yang ada di tangannya. Bahkan saking asiknya, gerobak mie ayam itu ditinggalkannya begitu saja, seakan mengundang pemulung jail untuk mengangkutnya.


Karena penasaran, diriku pun bertanya…
“Mas Jason…” (panggil saja demikian, karena dia sering dipanggil Son ama pelanggannya) “Son… mie ayamnya siji maning sooon…, sedang apa kok asik bener di pojokan?” tanyaku.
“Eh mas ganteng… (satu hal yang aku suka dari Jason adalah: Orangnya suka bicara Jujur!), ini mas, lagi update status!!…”


WADEZIG!!!


“Weehhh… njenengan fesbukan juga to??” tanyaku heran.


“Ya iyalah mas… hareee geneee ga fesbukan?!? Lagian kan lumayan juga buat menjaring pelanggan lewat fesbuk, kata pak Hermawan Kertajaya kan dalam berdagang kita harus selalu melakukan diferensiasi termasuk dalam hal pemasaran mas…”


GLEK!! Kalah gw! Gw yang sering naik Kereta ke jawa aja gak tau kalo ada yang namanya Hermawan Kereta Jaya.

“Emang mas statusnya apa?” tanyaku penasaran.
“Nih mas aku bacain:



Promo Mie Ayam, beli dua gratis satu mangkok, beli tiga gratis nambah kuah, beli empat gratis timbang badan… takutnya anda obesitas… segera saya tunggu di gang Jengkol, depan tengkulak Beras Mpok Hepi. Mie Ayam Jason : Melayani dengan Hati… ampela, usus dan jeroan ayam lainnya…”

GUBRAK!!! Dua kosong untuk mas Jason…


Gw yang udah lama fesbukan aja gak bisa bikin status se-atraktif dia.
Tapi ada yang aneh pas kulirik ke henpon yang dia pake, aku kira henponnya blekberi atau minimal nokia seri baru yang uda bisa pake internetan. Selidik punya selidik, ternyataa… henponnya lawas bin jadul… HP yang masih monokrom, suara belum poliponik, dan masih pake antena luar kayak radio AM.


“Mas, tapi kok bisa update fesbuk pake henpon sederhana gitu? (bahasa halusnya henpon lawas) Gimana caranya??”
“Owwh… gampang mas, saya tinggal nulis statusnya lewat SMS lalu kirim ke Tri?” jawab dia datar.
“Ohh… mas nya pake Kartu Three ya? Yang gratis internetan itu?”


“Bukaaaan mas, Tri itu lengkapnya Tri Ambarwati… Dia itu pacar saya, sama-sama dari Tegal, yang kerjaannya jagain Warnet 24 Jam! Jadi kalo butuh update, tinggal sms dia aja nanti dia yang gantiin status saya, lha wong dia tiap hari di depan komputer jagain warnet. Paling sebagai balesannya saya gratisin mie ayam seminggu sekali… murah to…”


Mendadak kepalaku pusing…
Bagaikan menderita dehidrasi akut sekaligus hipotermia tingkat tiga, aku limbung mendengar jawaban spektakuler dari mas Jason…


BRUK!!


“Lho mas… mas… jadi beli mie ayam ndak… kepriben iki?”



***
Cuman bisa komen: komunikasi marketing yang smart, modern dan beda! (untuk seorang pengusaha mie ayam keliling)
Thanks Joe! Like this!

Ads on Social Networks


20% of Online Advertising is on Social Networks

More than one in five of all online ads are served on social networks. MySpace still leads the pack with 9.2% of all online ads, and Facebook is a close second with 8.2%.

source  


 

Packaging Design

Packaging design has the primary goal to attract customers’ attention. For this purpose, package designs can not simply inform the customers, but also provoke feelings and communicate emotions. An effective packaging looks attractive, impresses with its creativity and is just nice to have on the shelf.



Creative Product Designs


Creative Product Designs

Brand

The American Marketing Association defines a brand as a name, term, sign, symbol or design, or a combination of them intended to identify the goods and services of one seller or group of sellers and to differentiate them from those of other sellers.




Therefore it makes sense to understand that branding is not about getting your target market to choose you over the competition, but it is about getting your prospects to see you as the only one that provides a solution to their problem.

Make a Difference


adalah memodifikasi produk menjadi lebih menarik. Biasanya dengan mengubah sedikit karakter produk (kemasan dan tema promosi tanpa mengubah spesifikasi fisik produk).
Diferensiasi produk yang berhasil, mampu mengalihkan persaingan dari harga ke faktor lain, seperti karakteristik produk, strategi distribusi atau variabel-variabel promotif lainnya. 

 J-me
shoes

Tidak Dijual



Advertising often attempts to persuade potential customers 
to purchase or to consume
a particular brand of product or service



*gimana dengan kasus ini? sudah pusingkah dia dg clients? hehe..*

Sibuk dengan Shooting dan Pemotretan nih!


'Ngapain sih lu sibuk shooting ama pemotretan mulu??'

Iya lah, lagi banjir proyek ni ama aji mumpung skalian.. haha.. *Mangnya gw artis?!*


Anyway, itu bagian dari kerjaan cuyy.. Selain event, bagian inilah yang paling menyita jiwa-raga di Marcom. Sehingga motto kita: TTS (Tiba-Tiba Subuh) 


Ceritarasa William Wongso - MetroTV


hasil pemotretan dan editing, seru kan?

Iklan gpp kan?

Arsitek yg 'melatjoerkan-diri' di jalur lain



Sering orang nanya: Kenapa si kamu ga kerja jadi Arsitek aja? Aku selalu jawab: hmmm.. 


Well, alasan sebenernya ya 'kesempatan yang datang' aja. Dan aku sangat menyukai hal baru. Aku terlalu mencintai Arsitektur, jadi aku tidak menempatkan 'beliau' pada rutinitas keseharian, takut jadinya malah jenuh. Dalam dunia kerja Marketing Communications (Marcom) yang aku jalani sekarang, ga jauh beda sebenernya dengan Arsitektur, keduanya memiliki garis Creativity! Dan aku senang melakukannya. 


Arsitektur aku tempatkan pada posisi spesial setara dengan Travelling dan Music, pada akhirnya, dan aku selalu lakukan dengan penuh excited. Terus ga bosan dengan dunia Marcom? Tidak! Marcom (Brand Building: Advertising, Promotion, Event, Public Relation etc.) jelas penuh kejutan! Variant nya terlalu banyak untuk di-bosan-kan. 





Dan yang pasti: 
I know what I'm doing.


Seurieus: EMAK Penjual Lotek

Selepas perjalanan 150 km, aku nyempetin mampir ke tempat makan buat nanggepin gejolak permintaan perut yg ga diisi sejak pagi. Ga pikir panjang, aku pilih yang terdekat dan ada di depan mata. Pilihanku jatuh pada sebuah warung dg papan kecil bertuliskan: Sedia Lotek.

Aku masuk, dan menyaksikan seorang ibu lanjut usia sedang bekerja dengan cobek-nya. "Mangga..." sapanya disela-sela proses pengerjaan bisnisnya *ceileee*. "Bu, lotek-na hiji...". Ga berapa lama lotek tersedia dengan nasinya. Di tengah keasikanku dengan lotek-nasi yg menurutku dan perutku juga enak banget saat itu, si ibu tiba2 bicara dari belakang "den, masih kuliah?" *sesaat hatiku berbunga dengan julukan mahasiswa hihihihi... secara*, jawabku:'Teu bu, tos damel".







*btw selanjutnya percakapannya pake bahasa indonesia aja deh, sebenernya mo pake basa sunda karena lebih kena*

"Den, emak sudah 2 tahun ga ngarendos (ngulek lotek) karena emak sakit, baru sekarang saja mulai lagi, soalnya anak emak yg nerusin jualan sedang sakit, tuh dikamar ditungguin anaknya" terusnya, dan dia menyebut dirinya 'Emak'. Tampaknya dia berusaha mem-BRANDING-kan dirinya dengan julukan lebih akrab dan berbeda.



"Dulu di depan jalan sini ada sungai kecil, airnya banyak, tapi sekarang kering". Hah? Penasaran aku langsung nanya "Emang emak mulai jualan tahun berapa, kok ada sungai segala?" Aku mulai menyapanya emak. "Emak mah dari tahun 1953 udah mulai ngulek". Walah walah, saat itu langsung aku mulai berhitung; jika tahun 1953 dia mulai jualan di umur 15 tahun, let's say, berarti di 2009 sekarang dia sudah berusia 70 tahun. *bener ga seh?*. Disini aku mendapat gambaran tentang BUSINESS FOCUS yang konsisten selama 55 tahun. *atw ga nemu kesempatan lain? hehe*.






*bukan lotek ini ya.. ga bisa dimakan!*


Beberapa menit aku kembali asik makan, ga berapa lama dia bicara lagi "Kuburan orang tua emak di Astana Anyar sekarang udah jadi pasar den, ga tau dimana nisan-nya" ceritanya berlanjut. Walah... Aku mendapat sedikit gambaran Bandoeng Tempo Doeloe dari pembicaraannya. Asik juga. Dia masih pengen cerita sama aku "Den, kalo dulu yang suka beli disini tuh anak SMP-SMA, sekarang mah banyak anak kuliahan sama yg kerja". Aku nangkep dia mengerti TARGET MARKET yang berubah sehingga dia juga membuat suasana tempat tersebut menjadi lebih nyaman buat orang bisa duduk dan makan. "Mereka semua udah pada 'jadi', ada yang jadi dokter juga, dan masih nyari emak kesini". Ya ampun, dia nerapin CUSTOMER RELATIONSHIP dengan produk dan service-nya secara continue selama itu.

Ga terasa lotek-ku ga bersisa di piring. Aku terdiam dan berpikir tentang kenyamanan disini (meski tempatya biasa banget, cenderung acak2an malah) selama dia menawarkan keramahan, cerita2nya, serta pemandangan dia mencium kening cucunya ketika mau berangkat sekolah, serta begitu berterimakasihnya dia saat menerima uang makanku saat itu, "Alhamdulillah" ujarnya tulus. Aku langsung mengingat MARKETING EXPERIENCE yang sejujurnya sulit dilakukan. Dan aku merasakan mendapatkannya dari sebuah warung kecil ini? Tampaknya emak berusia 70 tahun ini mengerti benar tentang SERVICE EXCELLENT buat konsumennya. Dan dia jelas2 telah berhasil membangun CUSTOMER LOYALTY, karena aku bersedia untuk datang lagi ke tempat yg agak acak2an ini!

Ga bisa dipungkiri PRODUCT is MARKETING itself (produknya harus enak pastinya), tapi tentunya SERVICE adalah faktor pembeda saat ini. Pelajaran memang tidak selalu didapatkan dari sebuah bangunan besar berlantai tinggi di pusat kota. Ya iya lah. 



***